Monday, January 7, 2013

Antara Metode dan Tujuan

Pembahasan ini saya anggap menarik dikarenakan hal ini baru saya rasakan akhir - akhir ini.

Pada suatu hari saya bertemu dengan teman saya yang telah berubah haluan dari seorang musisi dan ingin  menjadi seorang yang mendalami agama. saya secara pribadi menghargai pilihannya untuk memilih hal tersebut dan menyenangkan untuk melihat dirinya yang berkeinginan untuk memperdalam agama. Namun yang menjadi persoalan bukanlah tentang dia yang mendalami agama tersebut, melainkan dirinya yang sering menasihati orang lain agar menjadi baik.

Bukankah itu hal yang baik?

Iya, jika dilakukan dengan metode yang baik pula. 

Teman saya mengingatkan orang lain tidak dengan cara berdiskusi namun menggurui, hal tersebut saya anggap salah karena seakan akan orang lain tidak lebih pintar dalam persoalan agama dibandingkan dirinya yang baru belajar agama selama kurang lebih 3 minggu....(sering melihat yang seperti ini? saya secara jujur baru sekarang melihatnya) Di sinilah terlihat bahwa memberi nasihat merupakan suatu teknik atau mungkin secara unik dan metafisik berhubungan dengan seni.

Kenapa saya saya mengatakan bahwa metode lebih ditunjukan dan dipentingkan dibandingkan tujuan seseorang, karena secara sederhana kita tidak bisa mengetahui apa tujuan seseorang secara pasti (hanya Tuhan yang mampu melakukan itu), andaikan sedekat - dekatnyapun kita berusaha mencari tujuan kita hanya mampu menerka. Hal tersebutlah yang saya anggap suatu alasan pragmatis kenapa saya lebih memikirkan metode suatu hal dibandingkan tujuannya.

Kembali kepersoalan sebelumnya, saya cukup percaya bahwa tujuan teman saya adalah baik, dan saya lebih percaya lagi jika teman saya bisa merubah metodenya untuk mengajak orang lain berbuat baik, akan lebih menyenangkan dan efisien. karena tujuan yang benar dengan metode yang salah, serupa dengan orang yang bibirnya mengajak untuk beramal namun tangannya sedang menodongkan pisau kepada yang diajak.

No comments:

Post a Comment