Pembicaraan ini dimulai pada malam hari di warung kopi untuk mengobrol, tentang hal yang remeh mungkin. dimulai dari tawaran rekaman album kompilasi hingga masalah agama dan setan, dan yang menjadi menarik tentang masalah demokrasi dan kesiaapan mental demokrasi. pembicaraan ini seperti pembicaraan orang melayu pada umumnya ( term setara untuk mengganti kata ngalor - ngidul)..
Pembicaraan tentang orde baru pada era mantan Presiden Soeharto tentang kekuatan dan kebanggaan patriotisme milik indonesia, dimulai dari swasembada pangan, hingga anggota OPEC, sampai bentuk skeptisisme tentang mentalitas komunal Indonesia yang memang harus dipecut, dan tidak siap untuk berjuang secara individu dan mandiri pada era global.
Yah,,,, memang tentang itu saya sendiri juga merasa dilema, dimana Malaysia dan Singapura yang tidak demokratis bisa lebih makmur dibandingkan Indonesia yang dikatakan berdiri dengan asas demokrasi lebih terseok - seok tentang persoalan kemakmuran. kita tak usah melanjutkan persoalan itu karena saya lebih percaya masalah proses dan metode, dan kedua hal tersebut memang perlu dikaji tanpa henti hingga akhir dunia.
Selanjutnya persoalan setan, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa setan bertugas untuk menggoda manusia dan mungkin saja setan akan masuk ke surga. Aneh? bagi saya tidak, jika kita membicarakan persoalan deontologi dan percaya bahwa setan memiliki deontologi, belum lagi jika kita percaya bahwa Tuhan Maha Tahu, maka tidak mungkin kalau setan dengan kegiatan membangkangnya akan melawan untuk memberikan hormat pada manusia pertama, yah bisa kita katakan bahwa Tuhan sedang test drive mahluknya tersebut. kita tak usah lanjutkan hal itu lagi, karena memang itu rahasia yang jika kita berupaya dekati tak lebih dari spekulasi dan tak lebih dari konspirasi.
Namun yang terakhir adalah pembicaraan yang menarik, tentang persahabatan. sebagai manusia persahabatan terkadang sangat aneh, atau terlalu aneh. kita bisa berkorban dan membantu seseorang yang seringkali tidak bisa memberikan bantuan yang sama, ataupun malah merepotkan kita, namun bukankah itu persahabatan? bukan karena kita mampu membantu seseorang kita dianggap sahabat, namun karena kita tidak bisa membantu orang tersebut namun memaksakan diri maka kita bisa bersahabat denganya?